Selasa, 17 Februari 2009

PERANAN PADUAN SUARA GEREJA

PERANAN PADUAN SUARA GEREJA

DALAM IBADAH JEMAAT PADA HARI MINGGU


Branckly Egbert Picanussa, S.Si, M.Th.LM

  • Kata "Paduan Suara" berasal dari kata bahasa Yunani, choros yang berarti a group of singers (suatu kumpulan para penyanyi) – yang menyanyikan bagian-bagian suara tertentu, misalnya S, A, T, B.
  • Paduan Suara Gereja adalah suatu kumpulan para penyanyi yang melayani Allah dan Jemaat-Nya melalui nyanyian dan perilaku hidup keseharian yang memuliakan Allah.

  • Ibadah Jemaat pada hari Minggu yang dimaksudkan di sini adalah saat dimana jemaat berkumpul dan secara bersama-sama ada dalam suatu pertemuan yang dinamis dengan Allah.

  • Paduan Suara Gereja (Unit/Sektor/Jemaat yang sejenis atau campuran) merupakan salah satu unsur dari Ibadah Jemaat pada hari Minggu yang kurang mendapat perhatian yang serius.

  • Beberapa permasalahan tentang Paduan Suara Gereja (Unit/Sektor/Jemaat apakah itu sejenis atau campuran) di dalam Ibadah Jemaat pada hari Minggu:
    • Kebanyakan paduan suara gereja belum mengetahui peranannya di dalam suatu ibadah;
    • Ada paduan suara gereja yang telah mengetahui peranannya tetapi belum berani melakukannya karena belum diberikan tempat yang semestinya oleh pimpinan jemaat atau jemaat;
    • Pimpinan Jemaat / Majelis Jemaat belum mengetahui peranan paduan suara dalam ibadah, sehingga kehadiran paduan suara dalam suatu ibadah hanyalah untuk menyanyikan nyanyian yang telah paduan suara latih di suatu tempat;
    • Seringkali, nyanyian yang dipersiapkan oleh paduan suara tidak sejalan dengan khotbah / tahun gerejawi / tematis ibadah jemaat;
    • Selama ini, paduan suara gereja yang terbentuk belum memiliki tujuan yang jelas. Umumnya, paduan suara gereja yang terbentuk hanyalah karena inisiatif beberapa orang yang ingin bernyanyi bersama. Lebih parah lagi jika membentuk paduan suara gereja namun tujuannya secular performance.

  • Peranan Paduan Suara Gereja dalam Ibadah Jemaat adalah:
    • Menyanyikan nyanyian jemaat BERSAMA Jemaat. Dalam hubungan dengan hal tersebut, beberapa hal berikut ini perlu mendapat perhatian dari pemimpin (atau procantor) dan anggota paduan suara:
      • paduan suara harus memperlihatkan kesukaan mereka yang sangat besar kepada nyanyian jemaat dan memberikan contoh yang baik untuk berpartisipasi dalam menyanyikan nyanyian jemaat. Melalui suara dan ekspresinya, paduan suara dapat memberikan dorongan/bimbingan kepada jemaat untuk dapat bernyanyi dengan mempergunakan suara dan ekspresi yang baik.
      • paduan suara harus memiliki hubungan/pergaulan yang baik dengan jemaat dalam hidup keseharian.
      • paduan suara dapat menolong procantor untuk mengajarkan suatu nyanyian jemaat yang kurang familiar atau yang tidak dikenal/diketahui oleh jemaat. Hal ini berarti, bahwa paduan suara sudah harus mengetahui nyanyian tersebut dengan baik.
      • paduan suara dapat juga mengajarkan suatu nyanyian baru dengan terlebih dahulu menyanyikannya sebagai suatu anthem. Nyanyian jemaat, bila diaransemen secara sekasama dan menarik akan menghasilkan suatu anthem yang sangat indah.
    • Menyanyikan nyanyian (anthem, kantata untuk masa-masa tertentu) yang telah mereka latih. Dalam hubungan dengan hal ini, sebaiknya nyanyiannya mendukung khotbah/berhubungan dengan khotbah/tahun gerejawi
    • Menyanyikan salah satu atau beberapa nyanyian yang berhubungan dengan liturgical actions: panggilan untuk beribadah, panggilan untuk mengaku dosa, atau doa sebelum khotbah.

  • Beberapa variasi dalam menyanyikan nyanyian jemaat:
    • Unisono
    • Dua Suara (harmoni terikat/bebas/filling harmony)
    • Tiga Suara (harmoni terikat/bebas/filling harmony)
    • Empat Suara (harmoni terikat/bebas/filling harmony)
    • Laki-laki menyanyikan melodi
    • Perempuan menyanyikan melodi
    • Solo menyanyikan melodi diiringi dengung harmoni paduan suara
    • Alto, Tenor, Bas menyanyikan melodi sementara sopran menyanyikan diskan
    • Sopran dan tenor menyanyikan parts mereka sehingga kedengaran seperti duet.
    • Laki-laki menyanyikan melodi, Alto menyanyikan parts-nya, sedangkan sopran menyanyikan parts tenor satu oktav lebih tinggi.
    • Kwartet, Trio, Duet, Solo
    • Solo atau Satu Kelompok menyanyikan melodi dengan variasi harmonisasi oleh musik pengiring
    • Satu atau lebih ayat dinyanyikan di dalam parts oleh laki-laki atau perempuan
    • Modulasi naik atau turun
    • mengubah dari mayor ke minor, atau sebaliknya
    • Variasi nyanyian-nyanyian aklamasi: Salam, Amin, Haleluya, Hosiana, Maranatha, Berkat
    • Menyanyikan bagian kitab Mazmur secara variatif
    • Menyanyikan unsur-unsur liturgi lainnya seperti Pengakuan Iman, Doa Bapa Kami secara variatif.
    • Canon (menyanyikan melodi yang sama, namun saat memulai diatur sedemikian rupa sehingga harmoni tetap terjamin)
    • Bernyanyi secara ostinato (ostinato: suatu motif, frase, atau tema yang diulang-ulang pada nada yang sama)
    • Mendengung + Free Entrance (dengan melodi yang sama atau bisa juga berbeda)
    • Mendengung + Ostinato + Free Entrance (dengan melodi yang sama atau bisa juga berbeda)
    • Responsoris: menyanyikan nyanyian secara berbalas-balasan antara pemimpin dan umat (seorang solis dengan orang banyak)
    • Antifonal: menyanyian nyanyian secara berbalasa-balasan antara dua kelompok atau lebih, misalnya bagian kiri dan kanan jemaat, atau kiri dan kanan paduan suara, atau kiri dan kanan jemaat + paduan suara
    • Antifonal dengan Respons (nyanyian-nyanyian dengan refrein/koor)
    • Alternatim: menyanyikan bait-bait nyanyian secara bergantian. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menyanyikan sejumlah bait nyanyian jemaat secara bergantian, yakni:
      • jemaat laki-laki (satu/dua/tiga/empat suara) --- perempuan (satu/dua/tiga/empat suara) atau sebaliknya
      • jemaat bagian kiri (satu/dua/tiga/empat suara) --- kanan (satu/dua/tiga/empat suara) atau sebaliknya
      • jemaat orang dewasa (satu/dua/tiga/empat suara) --- anak-anak (satu/dua/tiga suara) atau sebaliknya
      • jemaat di balkon (satu/dua/tiga/empat suara) --- di bawah (satu/dua/tiga/empat suara) atau sebaliknya
      • jemaat (satu/dua/tiga/empat suara) --- paduan suara (saty/dua/tiga/empat suara) atau sebaliknya
      • solis atau vocal group/duet/trio/kwartet, jemaat (satu/dua/tiga/empat suara) --- musik instrumental
      • instrumental --- jemaat (satu/dua/tiga/empat suara) --- paduan suara (satu/dua/tiga/empat suara)--- jemaat (satu/dua/tiga/empat suara) --- solo --- instrumental
    • Resitatif: setengah bernyanyi
    • Pengembangan variasi yang lain


  • Beberapa Saran pengembangan:
    • Setiap PSG harus mengetahui peranannya dalam suatu ibadah jemaat
    • Perlu ditetapkan suatu hari untuk latihan bersama dengan para pelayan musik khusus (procantor, musik pingiring, musik pendukung lainnya)
    • Latihan secara teratur, sekalipun pada hari Minggu tidak menyanyi di gereja. Tahapan-tahapan dalam latihan perlu direncanakan dengan baik.
    • Latihan tidak hanya lagu yang akan dinyanyikan oleh paduan suara saja, tetapi juga lagu-lagu yang akan dinyanyikan dalam ibadah atau nyanyian-nyanyian jemaat lainnya.
    • Penempatan PSG di dalam gedung gereja perlu memperhatikan peranannya
    • PSG perlu ditata secara baik dalam suatu organisasi
    • Pemimpin PSG bekerjasama dengan pendeta dalam memilih nyanyian sehingga nyanyian mendukung ibadah
    • Jadwal PSG yang bertugas
    • PSG yang bertugas datang lebih awal dari jemaat
    • Nyanyian diserahkan minimal 1 hari sebelum ibadah dimulai
    • Jika belum ada procantor, maka pemimpin paduan suara (dirigen) dapat bertindak sebagai procantor
    • Regenerasi/kaderisasi anggota PSG perlu dilakukan sejak dini. Untuk mendapatkan suatu PSG yang baik perlu memperhatikan persyaratan personal dan musikal
    • PSG dapat juga menyanyi dengan diiringi alat musik (tradisional, modern)


  • Demikianlah beberapa hal yang berhubungan dengan peranan paduan suara dalam suatu ibadah jemaat pada hari Minggu. Semoga bermanfaat bagi pembaca yang budiman. God Bless You!

Sumber-Sumber:

Bartel, Judy., Christian Worship (Philippines: ICI Ministries Inc., 2001).

Berkley, James D., Gen. Ed., Leadership Handbook of Preaching and Worship (Philippines: Christian Literature Crusade, 2002).

Connolly, Michael., The Paris Cantor (Chicago: GIA Publications, 1991)

Delamont, Vic., The Ministry of Music In the Church (Chicago: Moody Press, 1980)

Hibbert, Mike Viv., Pelayanan Musik (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1988)

Lang, Jovian P., Dictionary of The Liturgy (New York: Catholic Book Publishing Co., 1989)

Lovelance, Austin C., and William C. Rice, Music and Worship in the Church (Nashville: Abingdon Press, 1976).

Morris., David, A Life Style of Worship (California: Renew Books A Division of Gospel Light, 1998)

Picanussa, Branckly E., A Creative Ordering of Music in the Sunday Worship of Petra Kamal-Congregation: A Pastoral Application of Creative Liturgy (Thesis, Philippines: AILM, 2004)

Sumrall, Beverley Anne., Singing in The Choir (Mandaluyong: OMF Literature Inc., 1993).

Sydnor, James Rawlings, Hymns and Their Uses: A Guide to Improved Congregationan Singing (USA: Agape, 1982)

Sheldon, Robin., (ed.), In Spirit and In Truth: Exploring direction in music in worship today (London: Hodder & Stoughton, 1932)

Webber, Robert E., Ed., The Complete Library of Christian Worship: Music and the Arts in Christian Worship (Nashville – Tennessee: t.t.).

Tidak ada komentar: